MUHAMMAD

*MUHAMMAD*

di serabutnya kelambu malam
malam semalaman
di bawah damar kamar yang temaram
aku menatap kitab kemitab
berbaris rapi pada rak kayu
yang mulai menua dimakan usia
kuambil satu buku ekposisi
tentang puisi cinta
lusuh berselimut debu
kubuka lembar demi lembar
berisikan syair dan pujian lagu
teruntuk dia kekasih hatiku
terbaca pelan penuh penjiwaan
tak terasa air mata kerinduan
menetes basahi pipi
merembes hingga di kedalaman kalbu
pada halaman terakhir
tertanggal 11-11-1991
masih jelas terbaca
ada doa dan harapan cinta
termaktub di sana
…….
oohh tuhan!!!
ampunilah kami yang berlumuran dosa ini
dengan curahan hujan air suci kasihmu
ba’da itu
muhammadkanlah iman dan jiwa kami
hingga ia kuat sekuat tonggak jati
muhammadkanlah kepala kami
ditengah arus gelombang cobaan

yang menggerus dinding akal fikiran dan nurani
muhammadkanlah
kopiah kami
baju kami
sarung kami
sajadah kami
amal laku kami
di bawah ridhamu duh gusti rabbi
hingga jalan langkah kaki ini
tetap lurus tegak menapaki zaman
yang kian mengancam ideologi kami
dan menggerogoti akidah kami

اللهم صلى على سيدنا محمد…!!!

#remahan_mimpi_2018
#Agib_chan_as_samarani
#milad_nabi
#hari_jadi_nabi

RESILIENSI CINTA

resiliensi cinta
by. Agib Chan As-samarani

aku ini bagai ikan saja
berenang menuju kesejahteraan cinta
berdialektika dengan semesta
merubah malam gelap
menjadi satu energi positif
kukuhkan resiliensi batin
untuk terus berkarya
kembangkan kualitas diri
memperkaya nalar
asah cita rasa dan nurani
sesekali mencoba mentransformasi
tempo beat citra bunyi kata dan kalimat
pada nyanyian suara ombak laut
menjadi bunyi digital tanpa kata
terciptalah satu jenis
musik otentik baru yang merdu
harmoni komposisi
suara mencuit
menggelegar getarkan dinding dada
detak jantung keras berdebar-debar
bergeraklah seluruh raga
………
di sana
terasa ada hubungan metonimik
antara kalbu dan musik
menari bergerak ke sana kemari
berkias-kias sesuka hati
bebas hentak-menghentakkan kaki
meliuk-liukkan tubuh
mengangguk gelengkan kepala
ke kanan dan ke kiri
mengular bagai ular
putar-berputar
mengikuti ritme alunan musik
menyapa asma-mu begitu asyik
merengkuh luasnya cintamu
menggelitik di ketepian rindu

TENGGELAMKU PADA SUARAMU

*TENGGELAMKU PADA SUARAMU*

oleh: Agib Chan As-samarani

aku tak lagi berani bertanya
mengapa aku bahagia
berselimut dingin malam
lirih suara angin menyapu ranting-ranting pepohonan
terdengar lembut memanjakan membran pendengaranku

aku tak lagi berani bertanya
mengapa dedaunan tua
yang berjatuhan di atas tanah
melahirkan suara nikmat dan indah
temani malam ku yang tidak sedang gundah

aku tak lagi berani bertanya
mengapa sisa-sisa air hujan
yang jatuh menetes di atas bebatuan
dan danau tambing yang bening
terdengar bagitu nyaman bagai tembang kenangan
iramanya mengalun syahdu
bersahutan bersama suara-suara hewan
merangkul mesra kesendirian syairku
temani malam-malamku yang tak lagi dirundung rindu
di tengah belantara hutan lindung napu
oohh…
tenggelamku pada nyanyian alam

yang terus memuja dan memuji namamu

_hutan lindung napu sulteng_ 22 oktober 2017

SATU

SATU
oleh: Agib Chan As-samarani

demi fajar
serta malam yang sepuluh
dan yang genap serta ganjil
pada malam yang telah berlalu

sungguh ayatmu itu mengajarkan
betapa indahnya membilang angka
menjadikan diri ini tetap kekeh istiqamah
‘tak lelah oleh goda dan rayu

satu per satu kurangkai angka
mulai romawi, arab, hingga jawa
ku tata di luasnya halaman jiwa
guna mendaras tiap isyarah cintamu

ketika sudah sampai pada titik akhir angka
segera kutandai angka dua
sebagai bentuk lit-ta’kid
atas imanku akan hakikatmu

bagai angka ganjil cintaku padamu
‘tak akan habis meski terbagi dua
tidak seperti angka genap kasihku padamu
yang cepat lenyap kala terbagi dua

dan demi sebelas bintang
satu matahari satu bulan yang bersujud kepada yusuf
keyakinanku akan wujud kasihmu
adalah angka satu

sirnalah ke-akuan-ku dan ke-akuan-mu
aku dan kamu
meng-ittihad di indahnya kedalaman kalbu
damai bahagia di ujung nirwana

yk.281117

MATA MATA HATI

*MATA MATA HATI*
oleh: Agib Chan as-samarani

hari ini
mata matahari sedikit mengintip bumi
kala aku menata rangkaian mata huruf
‘tuk kujadikan sebagai mata surat
berkisah tentang mata hati
dalam mata acara syairku
lalu kupersembahkan semata-mata untuk mata cintaku padamu

mata dengan mata
saling beradu mata
melalui mata jarum
kulihat kedua matamu binar
jendela mata hatimu bukan
lagi mata buatan
melainkan indah bermatakan batu permata
air mata-mu kian terasah
keluar deras jika melihat ketimpangan mata pencaharian

jika mata hatimu mulai buta
gelap mata oleh gemerlapnya dunia
segera kan kupinjam
mata pisau
mata cangkul
mata bedil
mata bajak bahkan
mata tombak
tuk kembali mengasah
mata batin hingga
mata alamat tak lagi tersesat
kembali pada pusaran mata angin kebenaran

dan kepada pemilik matahari
sungguh aku rela jadi mata telinga-mu
sebab engkaulah mata jalan bagi rihlah spiritualku
saat kupejamkan mata
cahaya wajah ayumu
termata-mata dikedalaman
mata nuraniku

jogjakarta, 26 november 2017