Menilik Peran Wanita: dari Keluarga hingga Politik

Menilik Peran Wanita: dari Keluarga hingga Politik

Nuraini Habibah, M.S.I

IAINU Kebumen

E-mail: nur_habibah@gmail.com

Abstrak

Islam merupakan agama rahmatan lil’alamin pembawa rahmat bagi alam semesta termasuk di dalamnya menciptakan kemuliaan bagi kaum wanita. Islam membawa ajaran yang memposisikan wanita dalam kedudukan yang terhormat. Tidak ada diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Masing-masing memiliki tugas dan amanah yang berkeadilan. Masing-masing memiliki hak dan kewajiban yang harus ditunaikan demi menjalankan peran sebagai wakil Tuhan di bumi (khalifatun fil ardhi). Wanita dalam Islam tidak hanya memiliki peran penting dalam membina keluarga tetapi Islam juga memberikan ruang gerak bagi wanita untuk  berperan dalam kehidupan sosial maupun politik

Kata kunci : Peran Wanita, Keluarga, Politik

 

  1. Pendahuluan

Wanita dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah woman, dalam bahasa Arab disebut dengan istilah An-Nisa’. Dalam khasanah bahasa Indonesia wanita juga disebut dengan istilah perempuan.

Wanita dalam wacana yang berkembang diera modern ini dibedakan ke dalam dua sudut pandang. Pertama, sudut pandang jenis kelaminnya (sexnya) dengan segenap ciri-ciri biologisnya, yang sangat mudah untuk membedakannya dengan pria atau laki-laki, bahkan semenjak dilahirkan bahkan semenjak dalam kandungan. Sudut pandang ini cenderung tidak menimbulkan permasalahan apapun.[1] Kedua, dilihat dari sisi peran, tugas dan tanggung jawabnya (gendernya) dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Sudut pandang kedua inilah yang sampai sekarang masih terus menjadi perdebatan yang tak kunjung selesai. Wanita yang secara fisik lebih lemah dari laki-laki, bersifat emosional sehingga kurang bisa berfikir rasional, sering melahirkan stereotip wanita inferior dan laki-laki superior, sehingga wanita identik dengan pekerjaan domestik dan kurang piawai mengerjakan pekerjaan publik apalagi yang berkaitan dengan kepemimpinan dan penyelesaian permasalahan-permasalahan sosial. Lahirnya stereotip semacam itu dipengaruhi oleh kesalahan pemahaman terhadap teks agama yang secara implisit seolah menyatakan bahwa wanita itu inferior dan juga pengaruh budaya patriarkhi yang masih kuat hingga sekarang ini.

 

“…       Dalam Islam kata Nisa’ terdapat pada Q.S. An-Nisa 4: 33, artinya: “Bagi perempuan (juga) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Porsi pembagian hak pada ayat di atas tidak semata-mata ditentukan oleh realitas biologis sebagai perempuan atau laki-laki, melainkan berkaitan erat dengan realitas jender yang ditentukan oleh faktor budaya yang bersangkutan. Penggunaannya juga disamping dalam bentuk jender juga bisa berarti isteri-isteri seperti firman Allah Swt. pada surah Al-Baqarah (2): 222-223.[2]

  1. Peran Wanita Islam dalam Sejarah

Sejarah menceritakan bahwa Islam memposisikan wanita dalam  kedudukan yang setara dengan laki-laki dan memberikan kesempatan kepada wanita untuk ikut berperan tak terkecuali dalam kegiatan-kegitan sosial maupun politik. Kondisi sangat berbeda dengan kondisi pada masa pra-Islam (masa jahiliyah)

Untuk mengetahui lebih jauh tentang peran wanita, berikut akan diuraikan sekilas peran wanita pra-Islam (masa Jahiliyah), pada periode perkembangan Islam dan pada periode modern.

  1. Wanita Pra-Islam (Masa Jahiliyah)

Karena Islam lahir di Arab maka tradisi Arab Jahiliyah-pun akan  menjadi adat dan budaya wanita Arab Jahiliyah.[3] Kemahiran masyarakat Arabia pada saat itu sangat terkenal dalam bidang sastra, bahasa dan syair. Dari segi agama, selain menyembah berhala sebagian mereka juga menyembah matahari, binatang dan angin. Bahkan terkadang mereka juga menyembah batu-batu dan pepohonan. Mereka wanita Jahiliyah tidak mempercayai Tuhan Yang Maha Esa, adanya hari pembalasan dan tidak mempunyai keabadian jiwa manusia, mereka memiliki sesembahan patung dewi-dewi disamping dewa-dewa yang diyakini dan dimuliakan yang terletak disekeliling Ka’bah. Dalam bidang sosial dan Moral budaya wanita sangat rendah tidak hanya poligami saja yang berkembang namun Poliandri berkembang sebagai fenomena masyarakat saat itu. Wanita-wanita gadis biasanya pergi keluar kota untuk menjalin pergaulan bebas dengan pemuda kampung. Seorang ibu tiri dapat saja dikawini oleh anaknya dan bahkan sering terjadi perkawinan sesama saudara kandung.[4]

Sistem perbudakan merupakan sisi lain dari kemasyarakatan bangsa Arab pada saat itu. Budak diperlakukan majikannya secara tidak manusiawi. Para budak dilarang menikah baik dengan sesama budak maupun sesama orang merdeka situasi ini turut mempengaruhi budaya wanita Jahiliyah yang tidak mampu berbuat apa-apa. Jadi, tatkala seluruh penjuru jazirah Arabia merintih dalam kezaliman, ketidakadilan, kebengisan, kejahatan dan keyakinan takhyul, Muhammad Saw. muncul sebagai pembawa rahmat (kebajikan) bagi bangsa Arab dan bagi alam semesta.[5]

  1. Wanita Islam Pada Periode Perkembangan Islam

Pada periode ini budaya wanita Islam sangat terikat dengan eksistensi Islam yang dipandang sebagai keyakinan yang baru, sehingga budaya wanita pada saat ini berkaitan dengan cara-cara mereka dalam menjalankan ajaran agama Islam sesuai apa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Sebagai contoh Khadijah, wanita yang secara tegas yang mula-mula mengaku sebagai wanita Islam (wanita yang memeluk ajaran Islam).

Disebutkan bahwa Khadijah berada pada sisa peninggalan yang baik dari agama Ibrahim. Hal ini ditunjukkan penghormatannya terhadap perilaku Rasulullah Saw., yang senantiasa menyertai beliau selama satu bulan setiap tahunnya di gua Hira’ untuk beribadah di sana. Di samping itu Khadijah suka memberi makan orang-orang miskin yang datang kepadanya dan juga memberinya bekal. Bahkan dia juga mendampingi beliau dalam ibadah itu. Sudah barang tentu hal ini membuat kita yakin bahwa khadijah adalah wanita lurus, yang mengetahui bahwa alam ini mempunyai satu pencipta yang agung.[6] Hal ini menggambarkan bagaimana Khadijah adalah wanita Islam pertama yang mempunyai kebudayaan religius, sehingga ia menjadi simbol kemajuan yang cemerlang di Makkah.

Setelah itu kita akan mengenal sosok Aisah ra., Ummu Habibah, Ummul-Fadhl, Lubabah binti al-Harits dan lain sebagainya sebagai aktivis muslimat dengan ketegasan mereka menghadapi budaya Jahiliyah sebagai budaya primitif yang cenderung menganggap rendah wanita. Secara umum wanita Islam pada periode ini masih menangani rumah saja (domestik) karena budaya Arab menuntut wanita itu dipingit dan tidak memberikan peluang mengenal dunia luar (sosial) yang menjadi dunianya laki-laki. Namun Khadijah ra. dan Aisah ra. adalah sekian sosok wanita yang tampil beda untuk melakukan perbaikan terhadap pembinaan rumah tangga juga sektor luar rumah tangga disamping kedudukannya sebagi ummul mukminin.

Pada umumnya wanita Arab di awal masa Nabi Muhammad Saw. berada di bawah kekuasaan dan pengawasan keluarga prianya yang terdekat dengan ayah, kakak atau siapapun yang lainnya ataupun suaminya, yang haknya terhadap istrinya itu dianggap sama dengan terhadap hak milik yang lain. Tentang moralitas, kehormatan seorang istri sepenuhnya berada di tangan suami, yang selalu mengawasi agar jangan sampai dilanggarnya. Istri adalah “Muhanah” yaitu “wanita yang harus dijaga.[7]

Dalam rentang sejarah pada periode ini dapat dikatakan budaya wanita Islam masih dikatakan berpegang kepada budaya asal yaitu Arab yang patriarkhi[8] (paham kebapakan) yaitu yang menjunjung tinggi laki-laki di tambah lagi Al-qur’an sebagai sumber ajaran secara tekstual merekam adat ini untuk menjadi petunjuk kehidupan sosial. Sehingga tumbuh kesan budaya Arab ini adalah sesuatu yang benar dari Islam.

Dari sisi pergaulan, dulu orang-orang Arab takut akan akan kecantikan wanita dan sangat mengidam-idamkannya sehingga mereka selalu menekan pengaruh –pengaruh alaminya dengan menggembor-gemborkan seruan yang cukup dikenal tentang kesucian seorang wanita dan kelebihannya. Umar pernah mengatakan ajaklah kaum wanita bermusyawarah dan bedakanlah tempat mereka bekerja. Akan tetapi kaum muslim pada abad pertama Hijriyah belum memasukkan wanita dalam suatu tirai pembatas, karena saat itu kaum laki-laki dan wanita selalu bertemu, berjalan bersama-sama digang-gang maupun tempat-tempat tertentu, dan shalat bersama-sama di mesjid-mesjid. Pemakaian Hijab (pembatas aurat) dan pemisahan tempat belum meluas kecuali pada masa Walid II (124 H-127 H). Sedangkan pengisolasian wanita telah terjadi semenjak diharamkan kaum laki-laki mendekati wanita wanita yang sedang haid dan nifas.

Sebenarnya Nabi telah melarang mengenakan pakaian yang lebar, akan tetapi sebagian orang Arab pedalaman tidak mempedulikan larangan ini. Ketika itu, semua kelas dalam masyarakat mempunyai sarana-sarana tersendiri dalam berhias. Para wanita mengenakan BH, ikat pinggang yang berkilau-kilau, dan baju lebar yang berkilau-kilau dan baju lebar yang berwarna-warni. Rambut mereka disanggul dalam  beberapa sanggulan indah, atau dalam beberapa kepangan yang tersampir di atas  sisi bahu atau ke belakang. Terkadang mereka menambahi hiasan rambutnya dengan benang-benang dari sutra hitam, tetapi kebanyakan mereka menghiasi dengan permata dan bunga-bunga. Setelah tahun 97 Hijriyah, mereka mulai menyembunyikan wajah mereka dengan cadar di bawah kedua matanya. Semenjak itulah berkembang kebiasan itu dan kemudian tumbuh subur. Namun Will Durant pada halaman 233 jilid 10 dari buku “Sejarah Peradaban” mengatakan bahwa kaum wanita pada abad pertama dan awal-awal abad kedua berpergian keluar rumah tanpa hijab (penutup) aurat sama sekali adalah tidak benar, akan tetapi Islam telah mengubahnya. Aisyah pernah memuji wanita-wanita Anshar dengan mengatakan:

“Aku tidak pernah melihat yang lebih baik daripada wanita-wanita Anshar. Begitu ayat ini (ayat menyuruh menutup aurat) turun, setiap orang dari mereka segera menyambutnya dengan penuh antusias, lalu merekapun berkerudung semua, sehingga seakan-akan dikepala mereka terdapat salju.”[9]

Perbincangan mengenai pakaian wanita Islam ini sungguh ramai dan mengundang perbedaan karena di samping sebagai realitas sosial namun masalah ini juga terkait dengan hukum berpakaian wanita muslim.Tetapi secara umum bahwa budaya wanita Islam secara lahir adalah budaya yang lahir dari al-Quran dan al-Hadis.

  1. Wanita Islam Modern

Kajian ini sejak awal sulit untuk menilai budaya yang menggambarkan secara lugas bagaimana budaya wanita Islam yang ada dari beberapa daerah Islam yang telah tersebar luas dari beberapa daerah di timur tengah, namun hanya garis besar dari daerah budayanya saja (geo kultur) yang dapat dijelaskan. Apa lagi pada periode modern ini menyangkut seluruh penjuru dunia.

Kondisi umat Islam khususnya kaum wanita pada periode modern[10] memasuki era modernisasi yaitu era industrialisasi dan globalisasi, di antara yang terpenting ialah kehidupan rumah tangga, di samping keharusan keterlibatan untuk berada di luar dan jauh dari suami dan anak-anaknya dalam melakukan kegiatan-kegiatan sosial atau ekonomi-bahkan sebagian juga, budaya Arab yang menempatkan wanita fungsinya pada urusan domestik sekarang bergeser menjadi lebih luas yaitu menyangkut peranannya juga di luar rumah (area produksi).

Hal ini terjadi karena budaya modern sangat menjunjung tinggi hak asasi yang berakar dari pembebasan kelas-kelas yang merasa tertindas. Secara aklamasi ini di mulai dengan terjadinya Revolusi Perancis dan Inggris, yang intinya adalah merevolusi tatanan masyarakat dunia untuk mengangkat hak asasi manusia.

Sejak akhir abad kesembilan belas hingga pertengahan abad kedua puluh menentang pemingitan dan penghijaban perempuan kelas menengah dan atas, mengartikulasikan seruan pendidikan dan melek huruf perempuan dan coba menjauhkan Islam dari menindas perempuan. Ungkapan ini mereka lontarkan lewat karya sastra mereka yaitu berupa sya’ir dan novel yang memang menjadi tradisi dan kegemaran masyarakat Arab. Pemakalah tidak bisa menyebutkan satu persatu penya’ir Arab tersebut namun di antaranya adalah Aminah binti Sa’adah, Fatima Marnissi dan lain sebagainya. Salah satu contohnya di Indonesia, dahulu celana panjang dan baju lengan pendek dipakai wanita untuk memudahkan bekerja dipabrik-pabrik, namun sekarang wanita muslim lebih dari itu tidak segan dan malu bila memakai pakaian yang mirip pakaian yang dipakai laki-laki bukan untuk keperluan mendesak tetapi sudah menjadi model, bahkan di negeri Arab maupun di Indonesia sudah menjadi hal yang biasa bila wanita muslim tak memakai hijab (jilbab), begitu juga berdua-duaan dengan lawan jenis tanpa mahramnya.

Pada paroh kedua abad kedua puluh, tatkala perempuan kelas dan menengah mendapatkan akses lebih penuh ke kehidupan publik dan integrasi ke dalam masyarakat, kaum feminis menulis tentang peran dan hubungan jender, gerakan inilah yang sering disebut-sebut dengan gerakan emansipasi Menurut Marwah Daud Ibrahim, emansipasi wanita masa kini tidak lagi berarti perjuangan untuk mencapai persamaan hak, tetapi sebagai partner dan telah sampai pada upaya untuk meningkatkan sumber daya kaum wanita. Emansipasi yang baik dan dibenarkan dalam Islam itu ialah melihat lelaki bukan sebagai seteru atau lawan, tetapi sebagai partner, sebagai kawan seperjalanan. Harapan kaum wanita untuk mencuat ke puncak karir dan cita-cita bukanlah suatu hal yang dilarang dalam Islam. Namun semua itu harus didasarkan kepada ajaran agama, tanpa melepaskan ikatan dengan kodrat alami sebagai wanita.[11]

  1. Wanita Islam: Menilik Hak dan Kewajiban Menurut Al-Qur’an

Islam mengajarkan keseimbangan terlebih di tengah ragamnya dimensi kehidupan umat manusia. Keseimbangan tersebut dalam rangka saling mengisi antara satu dengan lainnya. Allah Swt. memberikan kelebihan dan kelemahan agar saling melengkapi antara keduanya. Berkaitan dengan budaya (tradisi) wanita Islam hari ini, untuk berkarir di luar rumah (bidang sosial, politik, ekonomi, dan lain-lain) tidak dilarang dalam Islam selagi dijalankan dengan tidak melanggar hak dan kewajiban yang diamanahkan kepadanya.

Salah satu tema utama sekaligus prinsip pokok dalam ajaran Islam adalah persamaan antara manusia, baik laki-laki dan perempuan maupun antar bangsa, suku dan keturunan. Perbedaan yang digaris bawahi dan yang kemudian meninggikan atau merendahkan seseorang hanyalah nilai pengabdian dan ketakwaanya kepada Tuhan Yang Maha Esa (Q.S. al-Hujurat (49) : 13)

Khususnya kepada wanita ajaran Islam menempatkannya pada posisi yang mulia. Kedudukannya tidak sebagaimana diduga atau yang dipraktikkan sementara oleh masyarakat. Ajaran Islam pada hakikatnya memberikan perhatian yang sangat  besar serta kedudukan terhormat kepada perempuan. Bahkan Al-Qur’an menyinggung secara khusus dengan diabadikannya surat an-Nisa’ (perempuan) di dalamnya. Hal ini menunjukkan bahwa wanita memiliki arti yang sangat penting dalam ajaran Islam.

Saat sekarang ini banyak orang yang tidak betul-betul memahami bagaimana sebenarnya kedudukan wanita dalam ajaran Islam yang telah disinggung dalam Al-Qur’an. Sehingga terkesan, wanita berada dalam posisi yang terdiskriminasikan. Wanita tidak lebih hanya sekedar sebagai pemuas nafsu kaum laki-laki. Wanita tidak lebih hanya memiliki peran di dapur, sumur dan juga kasur. Pada akhirnya, wanita berada dalam tempat yang hina, kembali seperti zaman pra-Islam (sebelum Rasul Saw. diutus) dulu.

Untuk itu, pemahaman terhadap kedudukan wanita sebagaimana sudah disinyalir dalam Al-Qur’an perlu untuk diaktualkan kembali. Sehingga eksistensi wanita yang sebenarnya (sesuai dengan pandangan Al-Qur’an) dapat tersosialisasikan dalam kehidupan saat kini.

Al-Qur’an berbicara tentang perempuan dalam berbagai ayatnya. Pembicaraan tesebut menyangkut berbagai sisi kehidupan. Salah satunya adalah berbicara tentang kedudukannya dalam ajaran Islam. Berbicara kedudukan wanita dalam Islam maka tidak bisa dipisahkan dengan permasalahan hak dan kewajibannya.

Sebagaimana Allah swt. berfirman dalam Surat an-Nisa’ (4) : 32

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah swt. kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain karena bagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan dan bagi para wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan…”

Ayat ini cukup jelas menggambarkan bahwa tidak ada diskriminasi bagi wanita, tidak ada jalan atau alasan untuk merendahkan derajat wanita. Semua bergantung kepada amalan masing-masing. Wanita mempunyai hak dari hasil usahanya sebagaimana kaum pria. Jadi, agama Islam sebagaimana kata KH. Ali Yafi memandang wanita sebagai teman (pendamping) bagi pria, bukan budak yang dapat diperlakukan sama dengan harta benda atau hanya sebagai pemuas nafsu belaka.

Berikut akan dikemukakan secara ringkas hal-hal yang menyangkut masalah hak dan kewajiban wanita sesuai dengan pandangan Al-Qur’an yang tujuannya adalah untuk mengangkatkan derajat wanita di segala bidang, di antaranya adalah :

  1. Dalam Keluarga

Seorang wanita dapat menduduki beberapa kedudukan dalam keluarga, yaitu sebagai anak, istri, ibu dan nenek. Apapun kedudukannya dalam keluarga, dia mempunyai berbagai hak dan kewajiban.

Sebagai anak, wanita berhak mendapatkan nafkah dan pendidikan serta perlindungan dari orang tuanya (Q.S. an-Nisa’ (4) : 19 ; Q.S. al-An’am (6) : 151). Sementara itu, kewajibannya sebagai seorang anak adalah berbuat baik kepada orang tua (Q.S. al-Baqarah (2) : 83 ; Q.S. an-Nisa’ (4) : 6 ; Q.S. al-An’am (6) : 151 ; Q.S. al-Isra’ (17) : 23 ; Q.S. al-Ahqaf (46) : 15) dan tidak berkata kasar kepada orang tuanya (Q.S. al-Isra’ (17) :23). Akan tetapi, seandainya seorang ayah atau ibu atau kedua-duanya menyuruh anaknya untuk menyekutukan Allah Swt., maka anak tersebut wajib menolak keinginan orang tuanya dengan sikap yang bijaksana dan tetap bergaul secara baik selama di dunia (Q.S.al-‘Ankabut (29) : 8 ; Q.S. Lukman (31) : 15).

Sebagai istri, seorang wanita juga mempunyai berbagai hak dan kewajiban sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. (Q.S. al-Baqarah (2) : 228). Di antara haknya ialah mendapat nafkah dari suaminya dan berhak mendapat perlakuan dan pergaulan yang baik dari suaminya. Di antara kewajibannya adalah menjaga dan memelihara rumah tangga berikut harta benda kekayaan mereka. Sebagai seorang Ibu, ia berhak mendapatkan perlakuan yang baik dari anak-anaknya dan kewajibannya adalah menyusui dan mendidik anak-anaknya (Q.S. al-Baqarah (2) : 233).

  1. Dalam Perkawinan dan Kewarisan

Wanita dalam lembaga perkawinan Islam mempunyai kedudukan dan hak yang seimbang dengan kaum pria. Demikian pula dalam lembaga kewarisan Islam, wanita juga menduduki posisi sebagai ahli waris yang berhak menerima harta warisan (Al-Qur’an surat an-Nisa’ (4) : 7)

  1. Dalam Kehidupan Sosial

Dalam kehidupan sosial, agama Islam memberikan kedudukan yang layak dan terhormat bagi kaum wanita, di samping kaum pria. kaum wanita diberikan kedudukan yang relatif sama dengan kaum pria untuk mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan dan berprestasi. Tidak ditemukan dalam Al-Qur’an maupun hadis pelarangan terhadap wanita mengenyam pendidikan.

  1. Dalam Pentas Politik

Muhammad Quraish Shihab, menyebutkan setidaknya ada tiga alasan yang sering dikemukakan dalam pelarangan keterlibatan wanita dalam politik. 1) Surah an-Nisa’ (4) : 34 yang artinya : “kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita…” 2) Hadis yang menyatakan akal dan keberagamaan wanita kurang dibanding akal dan keberagamaan pria (HR.Ibnu Majah). 3) Hadis yang artinya : “tidak akan mencapai suatu kebahagiaan bagi suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka pada wanita” (H.R. Bukhari)

Lebih lanjut Quraish Shihab mengemukakan bahwa ahli tafsir klasik memahami ayat tersebut sebagai dasar untuk melarang wanita sebagai pemimpin. Sementara pemikir Islam kontemporer seperti Jamaluddin Muhammad Mahmud memandang ayat tersebut sebagai ayat yang berbicara dalam konteks rumah tangga (keluarga). Sedangkan wanita adalah mitra bagi pria. Menurutnya lebih lanjut tidak ada ditemukan satupun ketentuan agama yang dapat dipahami sebagai larangan bagi wanita untuk terlibat dalam kancah politik atau ketentuan yang menyebutkan bahwa bidang politik hanya monopoli hak laki-laki.

  1. Penutup

Demikian sekilas menyangkut peran wanita dalam berbagai bidang perspektif Islam. Islam mengatur sedemikian rupa hak dan kewajiban wanita, untuk menjadi acuan bagi umat manusia,  muslim khususnya dalam memandang peran wanita, sehingga tidak ada lagi diskriminasi dan stigma yang keliru terhadap wanita.

Menurut Islam, di dalam keluarga, wanita baik dalam posisinya sebagai anak, isteri maupun ibu, wanita memiliki hak dan kewajiban yang membawanya kepada derajat kemuliaan. Dalam hal kewarisan, wanita juga berhak mendapatkan warisan sebagaimana laki-laki, adapun bagian untuk wanita separuh dari bagian laki-laki karena laki-laki memiliki kewajiaban memberikan nafkah kepada keluarganya sementara wanita tidak. Demikian juga dalam bidang sosial maupun politik laki-laki dan wanita memiliki hak sama untuk berperan dalam kancah tersebut.  Surat An-Nisa (4) : 34 yang sering dijadikan dasar dilarangnya wanita menjadi pemimpin, sebetulnya menjelaskan kepemimpina di dalam rumah tangga bukan kepemimpina dalam dunia sosial maupun politik.

Daftar Pustaka

  1. Hasjmi, Sejarah Kebudayaan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1995)

Abdul Aziz Dahlan (ed.), Ensiklopedi Hukum Islam (Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1999)

Abu Ahmadi, Ilmu Sosial Dasar (Jakarta: Rineka Cipta, 1997)

Amiur Nuruddin, Jamuan Ilahi (Bandung: Citapustaka Media, 2007)

Asma’ Muhammad Ziadah, Dauru al-Mar’ati as-Siyasi fi ‘Ahdi Nabi wa Khulafaurrasydin, Terj. Kathur Suhardi (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2001)

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001)

Hammudah Abdalati, Islam Dalam Sorotan (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1998)

Hazairin, Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Alqur’an dan Hadis (Jakarta: Tintamas, 1982)

  1. Ali, A Study of Islamic History, Terj. Ghufron A. Mas’adi (Jakarta: Raja Grafindo, 2000)

Komaruddin Hidayat, Agama dan Kegalauan Masyarakat Modern dalam Nurcholish Madjid, et.al., Kehampaan Spiritual Masyarakat modern (Jakarta: Media Cita, 2000)

  1. Quraish Shihab, Membumikan Alqur’an (Jakarta: Mizan, 1994)

Marshal G.S. Hodgson, The Venture of Islam Conscience and History in a word Civilization

Muhammad Arkoun, Rethingking Islam, Terj. Yudian Wahyudi dan Lathiful Khuluq (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996)

Murtadha Mutahhari, Masalah Hijab, Terj. Nashib Mustafa (Jakarta: Lentera Basritama, 2000)

Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender: Perspektif Alqur’an (Jakarta: Paramadina, 1999)

Nouruzzaman Shiddiqi, Jeram-Jeram Peradaban Muslim (Yogyakarta, Pelajar, 1996)

Reuben Levy, The Social Structure of  Islam, Terj. H.A. Ludjito (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986)

Siddi Gazalba, Islam Perubahan Sosio Budaya (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1983)

Siti Muslikhati, Feminisme dan Pemberdayaan Perempuan Dalam Timbangan Islam (Jakarta: Gema Insani, 2004)

The Holy Quran, (Brentwood, Maryland: Amana Coorporation, 1991)

Victoria Neufeldt (ed.), Webster’s New World Dictionary (New York: Webster’s New World Clevenland, 1984)

[1] Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender…, h. 38

[2] Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender…, h.164

[3] Membicarakan jahiliyah maka pikiran kita akan langsung tertuju pada masa sebelum Rasulullah saw diutus oleh Allah di Arab untuk sekalian umat manusia. Namun, kita sering terjebak dengan peristilahan jahiliyah, yang selalu kita artikan dengan kebodohan belaka. Sehingga identik dengan keterbelakangan, kemunduran ataupun tradisional. Pada akhirnya, jahiliyah hanya ada pada masa lalu. Di masa belum mapannya sebuah peradaban manusia. Padahal bila kita mampu bersikap lebih arif dan meluruskan kembali pemahaman terhadap jahiliyah itu, maka ia juga senantiasa ada sampai saat sekarang ini. Di zaman yang penuh dengan kemajuan ini, ditandai dengan pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi (IPTEK) kerap kali juga kita jumpai indikasi dari apa yang ada dalam pemikiran kita tentang jahiliyah. Era kekinian disebut dengan Era Modern atau lebih dari itu Post-Modern. Di masa ini, kita justru melihat berbagai hal yang tidak jauh berbeda terjadi seperti apa yang terjadi sebelum Rasulullah saw diutus ke muka bumi bahkan lebih parah dari itu. Sebagai contoh, membunuh anak lewat praktek prostitusi, membuang anak ke lobang sampah, ke selokan atau pun di mana saja meperjual belikan anak, dan lain sebagainya. Ini menunjukkan betapa jahiliyahnya masyarakat sekarang ini tidak berbeda dengan masyarakat jahiliyah di masa Rasulullah belum diutus dulu. Dengan demikian, kata jahiliyah tidak menunjukkan tempat, atau waktu tertentu saja. Sebab, jahiliyah berarti kebodohan tentang kebenaran dan hidayah Allah Swt. Berarti, ia bisa menghinggapi siapa saja dan kapan saja.

[4] Marshal G.S. Hodgson, The Venture of Islam Conscience and History in a word Civilization, h. 86-87

[5] K. Ali, A Study of  Islamic History, Terj. Ghufron A. Mas’adi (Jakarta: Raja Grafindo, 2000), h. 19-21

[6] Asma’ Muhammad Ziadah, Dauru al-Mar’ati as-Siyasi fi ‘Ahdi Nabi wa Khulafaurrasydin, Terj.

Kathur Suhardi (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2001), h. 7

[7] Reuben Levy, The Social Structure of  Islam, Terj. H.A. Ludjito (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986), h. 104

[8] Hazairin, Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Alqur’an dan Hadis (Jakarta: Tintamas, 1982), h. 57

[9] Murtadha Mutahhari, Masalah Hijab, Terj. Nashib Mustafa (Jakarta: Lentera Basritama, 2000), h. 129-130

[10] Salah satu ciri masyarakat modern yang paling menonjol adalah sikapnya yang sangat agresif terhadap kemajuan (progress). Di dorong oleh berbagai prestasi (need for achievement) yang dicapai oleh ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), masyarakat modern berusaha mematahkan mitos kesakralan alam raya. Semua harus tunduk atau berusaha ditundukkan oleh kedigdayaan iptek yang berporos pada rasionalitas. Realitas alam raya yang oleh doktrin-doktrin agama selalu dkaitkan dengan selubung metafisika dan kebesaran sang pencipta, kini hanya dipahami sebagai benda otonom yang tidak ada kaitannya dengan Tuhan. Dunia materi dan non-materi dipahami secara terpisah, sehingga dengan cara demikian masyarakat modern merasa semakin otonom, dalam arti tidak lagi memerlukan campur tangan Tuhan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya. Hasilnya ialah, masyarakat modern sangat agresif terhadap kemajuan. Hal ini mampu mengantarkan manusia pada berbagai prestasi kehidupan yang belum pernah dicapai sebelumnya dalam sejarah umat manusia. Komaruddin Hidayat, Agama dan Kegalauan Masyarakat Modern dalam Nurcholish Madjid, et.al., Kehampaan Spiritual Masyarakat modern (Jakarta: Media Cita, 2000), h. 97-98

[11] Abdul Aziz Dahlan (ed.), Ensiklopedi Hukum Islam (Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1999), h.1924